PLensa Praya
Tenun Ikat & Kerajinan Desa Sukarara

Menenun di Sukarara: Kain Songket Tangan Perempuan Sasak yang Bertahan

Desa Sukarara di Lombok Tengah menjaga tradisi tenun songket perempuan Sasak, dari benang ke kain, warisan yang masih hidup hingga kini.

Menenun di Sukarara: Kain Songket Tangan Perempuan Sasak yang Bertahan

Sorotan Utama

  • Sukarara adalah desa penghasil tenun songket di Kabupaten Lombok Tengah, tak jauh dari Praya, ibu kota kabupaten.
  • Menenun secara turun-temurun dikerjakan perempuan Sasak menggunakan alat tenun kayu bukan mesin.
  • Satu helai kain bisa memakan waktu berhari-hari hingga berbulan-bulan tergantung kerumitan motif.
  • Benang emas dan perak menjadi ciri songket, disusun manual mengikuti pola geometris tradisional.
  • Kain hasil tenun dijual langsung di rumah-rumah warga dan galeri desa, sebagian untuk busana adat.

Suara Alat Tenun di Pagi Hari

Sebelum matahari penuh naik di atas Sukarara, bunyi kayu beradu sudah terdengar dari kolong-kolong rumah. Seorang perempuan duduk bersila, kaki menahan kayu penegang benang, tangan menarik dan menyusun helai demi helai. Itu pemandangan biasa di desa ini, sekitar setengah jam berkendara dari pusat Praya di Kabupaten Lombok Tengah. Menenun bukan pekerjaan sampingan yang muncul sesekali. Bagi banyak perempuan Sasak di sini, alat tenun adalah bagian rumah, sama seperti dapur atau tempat tidur. Anak-anak perempuan sering belajar sejak kecil, menonton ibu dan nenek menyusun benang, lalu mencoba sendiri saat tangan cukup kuat menahan tegangan. Tradisi ini bertahan bukan karena kampanye, tapi karena diteruskan langsung dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam satu keluarga.

Dari Benang ke Kain Songket

Yang membuat tenun Sukarara dikenal adalah songket, kain dengan benang tambahan yang membentuk motif timbul, sering memakai benang berwarna emas dan perak. Prosesnya panjang. Benang lebih dulu ditata pada alat tenun, lalu penenun menghitung dan menyisipkan benang motif satu per satu mengikuti pola di kepalanya. Tidak ada mesin. Tidak ada cetakan otomatis. Semua bergantung pada ketelitian tangan dan hafalan pola. Karena itu waktu pengerjaan bervariasi. Kain sederhana bisa selesai dalam hitungan hari, sementara songket dengan motif rumit dan benang emas rapat bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Motif geometris, pola tumbuhan, dan bentuk-bentuk tradisional Sasak muncul berulang di kain-kain ini. Perbedaan kerumitan itulah yang membuat harga kain berbeda jauh, dari yang relatif terjangkau untuk suvenir sampai yang mahal untuk busana adat lengkap.

Ekonomi Rumah dan Tantangan Zaman

Di Sukarara, tenun menyambung langsung ke ekonomi keluarga. Banyak rumah membuka bagian depannya jadi tempat memajang kain, dan pengunjung bisa melihat proses menenun sekaligus membeli langsung dari penenun. Sebagian warga bergabung dalam kelompok atau galeri desa yang menjual bersama. Uang dari kain membantu biaya sekolah anak, kebutuhan harian, sampai keperluan adat. Tapi tantangannya nyata. Tenun tangan kalah cepat dibanding kain pabrik, dan tidak semua anak muda mau menekuni pekerjaan yang butuh kesabaran panjang dengan hasil yang tidak selalu cepat terjual. Ketergantungan pada kunjungan wisatawan juga membuat pemasukan naik-turun. Ketika kunjungan sepi, penenun harus mencari cara lain menjual kainnya. Meski begitu, sejauh ini keterampilan itu tidak hilang. Perempuan-perempuan Sukarara terus menenun, sebagian karena penghasilan, sebagian karena kain ini bagian dari siapa mereka. Bagi pengunjung dari luar, mampir ke Sukarara saat sedang di Praya memberi gambaran nyata betua sebuah kain lahir dari ribuan gerakan tangan, bukan sekadar barang di rak toko.

Tanya Jawab Singkat

Di mana letak Desa Sukarara?

Sukarara berada di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak jauh dari Praya yang menjadi ibu kota kabupaten. Bisa dijangkau berkendara dari pusat Praya dalam waktu relatif singkat.

Apa yang membedakan songket Sukarara?

Songket dibuat dengan benang tambahan yang membentuk motif timbul, sering memakai benang emas dan perak. Semua dikerjakan manual dengan alat tenun kayu oleh perempuan Sasak, tanpa mesin.

Berapa lama membuat satu kain?

Bergantung kerumitan motif. Kain sederhana bisa selesai beberapa hari, sedangkan songket dengan motif rumit dan benang emas rapat bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Bisakah pengunjung melihat proses menenun langsung?

Bisa. Banyak rumah dan galeri di Sukarara membuka bagian depan untuk memperlihatkan proses menenun, dan pengunjung dapat membeli kain langsung dari penenun.